
Jika kita menyuapi anak yang usianya baru setahun, tentu suapannya disesuaikan dengan kemampuan mengunyahnya. Paling besar satu sendok kecil atau setengah sendok besar, yang bagi orang dewasa mah kecil.
Tidak semua perkara bisa diukur dengan meteran, kiloan, atau hitungan ketika menentukan besar dan kecilnya. Besar menurut 'Abang Ujang' belum tentu besar menurut 'Paman Udin', begitu pula sebaliknya. Contoh ... Bang Ujang orang kaya yang punya 'properti' dan 'perusahaan' banyak, kata orang-orang sekarang mah "miliarder". Kalau Paman Udin, beliau cuma buruh tani yang kerjanya membantu majikan di kebun dan di sawah.
Jika Bang Ujang dan Paman Udin ditanya, "Besar mana 10 ribu dengan satu juta?" Tentunya keduanya akan menjawab "Besar Sejuta" karna melihat dari jumlahnya.
Suatu ketika mereka sempat bertemu di majlis pengajian. Ada kotak infaq yang ditaruh di pinggir jalan masuk, tujuannya untuk memberi kesempatan kepada jamaah barangkali ada yang hendak beramal menyisihkan sebagian hartanya ke dalam kota itu.
Namanya saja orang kaya, Bang Ujang memasukkan duit satu juta ke dalam kotak itu. Begitu juga Paman Udin, hanya saja Paman Udin cuma bisa berinfaq 10 ribu.
Nah jika kenyataannya begitu, coba kita bertanya, "Besar mana 10 ribu yang dikeluarkan Paman Udin dengan satu juta yang dikeluarkan Bang Ujang?". Banyak dan sedikitnya harta tergantung kebutuhan dan keadaan. Bisa jadi 10 ribu yang dikeluarkan Paman Udin lebih besar daripada yang dikeluarkan Bang Ujang, sebab 10 ribu milik Paman Udin itu bisa mencukupi kebutuhan pangan sehari, sementara satu juta yang dikeluarkan Bang Ujang bisa jadi lebih kecil nilainya, karena baginya jumlah segitu bisa didapatkan hanya dalam sejam dua jam.
Besar dan kecilnya juga tergantung pada keikhlasan. Yang jelas kalau kita hendak shodaqoh tidak harus menunggu kaya, namanya manusia tidak ada yang kaya oleh harta. Yang ada juga kaya oleh rasa, kaya oleh pikiran, dan kaya oleh pengertian. Benar tidak?
0 Komentar